Sekilas Tentang Kota Surabaya, Kota Metropolitan Kedua di Indonesia, Juga Salah SATU Kota Pendidikan Sarjana Saya

Kota terbesar di Indonesia setelah Jakarta adalah kota Surabaya.

800px-Tugu_Pahlawan_Surabaya

(Tugu Pahlawan, Kota Surabaya)

                  Surabaya merupakan pusat ekonomi, bisnis dan perdagangan terbesar di Jawa Timur ditunjang dengan fasilitas pendukung seperti Bandara Juanda dan Pelabuhan Tanjung Perak. Kata Surabaya sendiri berasal dari cerita mitos pertempuran antara Sura (Ikan Hiu) dan Baya (buaya). Kota Surabaya terletak 789 km sebelah timur Jakarta, atau 426 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Surabaya terletak di tepi pantai utara pulau Jawa dan berhadapan dengan Selat Madura serta Laut Jawa. Surabaya memiliki luas sekitar 333,063 km² dengan penduduknya berjumlah 2.813.847 jiwa (Data 2014).

Surabaya dulunya adalah gerbang dari kerajaan Majapahit. Hari jadi Kota Surabaya ditetapkan pada tanggal 31 Mei 1293. Surabaya terkenal dengan julukannya kota Pahlawan, kota yang berperan besar dalam Kemerdekaan Indonesia. Perjuangan yang selalu kita ingat salah satunya adalah perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada tanggal 10 November 1945. Oleh karena itu setiap tanggal 10 November, kita memperingatinya sebagai hari Pahlawan.

Semangat perjuangan tokoh-tokoh kota Pahlawan ini sudah terkenal dimana-mana diantaranya Sutomo (Bung Tomo), Gubernur Suryo, Ruslan Abdul Ghani dan tokoh-tokoh lainnya yang dibesarkan di Surabaya seperti HOS Cokroaminoto, Soekarno, dll. Jika di jaman sekarang ini tokoh-tokoh Surabaya yang cukup terkenal adalah Dahlan Iskan, Hary Tanoe, dan masih banyak lagi.

index(Salah satu tokoh Surabaya : Bung Tomo)

Surabaya juga dikenal memiliki kesenian yang khas yaitu Ludruk. Ludruk adalah seni pertunjukan drama yang menceritakan kehidupan rakyat sehari-hari. Ada juga Tari Remo yaitu tarian selamat datang yang umumnya dipersembahkan untuk tamu istimewa. Kidungan yaiutu seni pantun yang dilagukan, dan mengandung unsur humor705_Jawa_Timur_-_Pertunjukan_Laudruk_IE

(Kesenian Ludruk khas Surabaya)

Budaya khas panggilan arek (sebutan khas Surabaya) diterjemahkan sebagai Cak untuk laki-laki dan Ning untuk wanita. Sebagai upaya untuk melestarikan budaya, setiap satu tahun sekali diadakan pemilihan Cak & Ning Surabaya. Cak & Ning Surabaya dan para finalis terpilih merupakan duta wisata dan ikon generasi muda kota Surabaya.

286864_503401403021281_88450065_o

(Cak Ning Surabaya, 2014)

Setiap setahun sekali diadakan Festival Cak Durasim (FCD), yakni sebuah festival seni untuk melestarikan budaya Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya. Festival Cak Durasim ini biasanya diadakan di Gedung Cak Durasim, Surabaya. Selain itu ada juga Festival Seni Surabaya (FSS) yang mengangkat segala macam bentuk kesenian misalnya teater, tari, musik, seminar sastra, pameran lukisan. Pengisi acara biasanya selain dari kelompok seni di Surabaya juga berasal dari luar Surabaya. Diramaikan pula pemutaran film layar tancap, pameran kaos oblong dan lain sebagainya. diadakan setiap satu tahun sekali di bulan Juni bertempat di Balai Pemuda

Surabaya juga merupakan kota terbersih di Dunia. Salah satu taman di Surabaya pada tahun 2013, mendapatkan penghargaan Dunia The Asian Townscape Award 2013 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai taman terbaik di Asia karena fasilitasnya yang sangat lengkap dan terpadu yaitu mulai kawasan ekonomi (sentra PKL), kawasan terbuka hijau, taman, kawasan disabilitas, internet (Wi-Fi) gratis, serta penataan taman yang baik dan tanaman-tanamannya yang indah.

taman-bungkul-jadi-sumber-rejeki-dan-ajang-kumpul-warga-surabaya-001-hendro-dwijo-laksono

(taman Bungkul Surabaya)

       Perguruan Tinggi Negeri yang berada di Surabaya antara lain :

1. Universitas Airlangga (UNAIR), perguruan tinggi yang paling tua, unggul di bidang kesehatan. Terletak di pusat kota

kantor
2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), salah satu perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia

cropped-itnet
3. Universitas Negeri Surabaya (UNESA), perguruan tinggi keguruan atau pendidikan yang dahulu dikenal sebagai IKIP Surabaya

unesa lidah
4. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) merupakan perguruan tinggi Islam negeri yang sebelumnya bernama IAIN Sunan Ampel

gedung UINSA
5. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik yang unggul dalam bidang robotika dan merupakan salah satu politeknik terbaik di Indonesia, dulu merupakan bagian dari ITS.

Pens Campus
6. Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Politeknik yang unggul dalam bidang perkapalan dan manufaktur, dulu juga merupakan bagian dari ITS.

politeknik-perkapalan-surabaya
7. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya merupakan politeknik kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan.

img_4861
8. Politeknik Pelayaran Surabaya merupakan Sekolah Kedinasan Negeri dibawah Kementerian Perhubungan.

10178993_10153038249919298_225761557_ooo-3YXxYW
9. Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya, merupakan Sekolah Kedinasan dibawah Kementerian Perhubungan.

2978037_20130121124751
10. Akademi Angkatan Laut

dms661_pict1

Daftar Pustaka :

Wikipedia Indonesia. 2014. http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surabaya

Pelatihan Indofood Leadership Camp (ILC) IV memberikan banyak kejutan, manfaat dan kenangan

10536579_10202501930779428_2415711334191859762_o
Indofood leadership Camp IV merupakan pelatihan lanjutan dari ILC I,II, dan III. Pelatihan ini mengasah kemampuan kita untuk benar-benar mandiri, membuat program-program pengabdian masyarakat yang kreatif. Di sisi lain banyak materi bermanfaat yang saya dapatkan di ILC IV mengenai kedewasaan berfikir yang disampaikan Pak Dadit, profesionalisme yang diajarkan pengurus KSE, wawasan mengenai Indonesia dari Pak Mirza, dan pengalaman karir dari Ibu Werry. Menyadari itu semua berdampak positif bagi saya.

Sekedar cerita, untuk mengikuti program pelatihan BISMA, saya harus ijin 3 hari untuk tidak mengikuti kuliah, artinya adalah butuh pengorbanan ekstra yang kita lakukan dalam mencapai kesuksesan. Dan Alhamdulillah saya tidak pernah menyesal. Saya memutuskan untuk ikut ILC IV ini sejak saya masuk dalam program BISMA. Waktu itu saya bercita-cita mengikuti pelatihan ILC hingga jenjang terakhir yaitu ILC 5. Saya ingin belajar banyak mengenai pengembangan diri, saya ingin memahami dunia luar, saya berkeras hati untuk merubah perilaku, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan terus menjadi lebih baik.

Awalnya saya mengalami kondisi yang sangat padat dan melelahkan karena hari-hari sebelumnya saya harus presentasi kerja praktek, serta sebagai salah satu peserta PIMNAS di Semarang. Sempat sakit Demam H-1 sebelum ILC IV, tapi itu tidak menjadi masalah, kadang malah memberi semangat untuk terus maju. Saya merasa ini adalah tantangan, dan ternyata tantangan itu menyenangkan, walaupun saya tidak pernah tau apa yang terjadi pada masa depan atas keputusan saya. Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik

Bulan September diterima di ILC IV, kesempatan yang mungkin tidak orang lain bisa dapatkan dengan mudah.

Saya berangkat dari ITS berlima dengan salah satu teman saya di Thailand waktu itu. Sebagai salah satu penanggung jawab dari ITS saya membantu mengkoordinir perlengkapan, transportasi dari temen-temen ITS bersama Miftakhul Riza. Berangkat mulai pukul 04.00 dari Surabaya, Alhamdulillah perjalanan sangat menyenangkan. Kami dari kelompok KSE ITS waktu itu diberikan tugas membuat briket untuk diaplikasikan di masyarakat Kertasarie secara langsung. Program Briket ini kami memanfaatkan daun dan ranting yang tidak terpakai (Limbah) untuk dijadikan bahan bakar alternatif. Saya sering mendengar konsep briket ini sejak mengikuti TFI yang diadakan KSE, dan masih ingat juga salah satu yang menjadi inspirasi dalam membuat briket ini adalah Pak Chris. Beliau memberikan banyak masukan mengenai briket. Alat-alat briket sudah dipersiapkan dengan baik oleh tim KSE ITS, walapun jujur kami belum pernah membuat briket sebelumnya.

Selanjutnya, tiba di stasiun disambut oleh rekan-rekan saya BISMA dari perguruan tinggi lainnya. Rasa senang dan bangga bisa berkumpul kembali dengan mereka. Merasa beruntung dari pelamar Beasiswa KSE sejumlah 13.000 mahasiswa dan sekarang terpilih 47 mahasiswa berkesempatan menjadi peserta ILC IV di Bandung. Bagi saya : bersilaturahmi, bertukar pikiran sebagai mahasiswa di seluruh Indonesia adalah hal yang luar biasa. Kita semua dengan rendah hati menyadari kelebihan dan kekurang masing-masing. Bahkan saya sudah terbiasa dengan karakter rekan-rekan BISMA, saya berusaha harus percaya diri disini. Meyakinkan diri sendiri untuk menjadi yang terbaik walaupun sebenarnya  sosok yang sederhana saja.

Hari pertama, belajar beradaptasi dengan lingkungan, menyamakan persepsi, menyatukan tujuan kenapa ikut ILC IV bersama rekan-rekan BISMA lain. Tujuan sangat penting bagi kami untuk menentukan arah belajar. Di sela-sela perjalanan menuju Pengalengan Bandung kami memanfaatkanya dengan canda tawa, itu membuat kami relax sebelum memulai kegiatan.

Acara hari pertama pembukaan ILC IV tidak disangka dihadiri pihak-pihak dari Indoagri, Indofood dan pengurus KSE. Senang bertemu langsung dengan figur yang sukses di bidangnya masing-masing. Kami belajar sikap mereka secara menyeluruh mulai dari sikap duduk, berbicara, cara memimpin dan pandangan mereka mengenai permasalahan Indonesia. Mereka mengajarkan dengan baik mengenai kepemimpinan, memimpin itu tidak harus memegang jabatan. Kita pun anggota biasa sangat bisa menjadi pemimpin yang baik walaupun hanya anggota biasa. Mereka memang sosok yang optimis terhadap Indonesia, saya pun demikian. Walaupun bukan ketua di salah satu tim ILC IV saya masih bersyukur bisa belajar banyak dari cara mereka memimpin.

Hari kedua saatnya bersenang-senang dengan teh. Belajar proses penanaman hingga pemetikan teh dijelaskan secara detail. Proses penanaman teh ternyata tidak mudah, butuh ketelitian dan perencanaan yang baik. Bertemu dengan bapak fadlypun disini, di proses fabrikasi teh. Mungkin karena pak Fadly tidak menggunakan pengeras suara waktu itu, saya selalu berada di dekatnya untuk mendengarkan penjelasan beliau. Suasana waktu itu ramai dikarenakan juga peserta ILC IV yang banyak. Tapi baguslah, saya masih bisa memahami apa yang diajarkan bapak Fadly, dan akhirnya banyak ilmu yang didapatkan mengenai bisnis perkebunan teh.

Di hari ketiga, kita mulai melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Dari Analisa kondisi masyarakat awal khususnya tim Briket : banyak sekali sampah daun dan ranting yang berserakan di sekitar rumah penduduk. Hal ini merupakan salah satu potensi program briket. Kami mulai mensosialisasikan mengenai cara pembuatan Briket di Hari ke-3. Di hari sosialisasi pertama kami : masyarakat sangat antusias, kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak. Alhamdulillah pada saat itu : ketua Dusun, karang taruna dan Ibu PKK ikut hadir dalam sosialisasi. Di Hari pertama sosialisasi, Briket kami gagal karena tidak bisa dibakar.

Di hari selanjutnya kami mensosialisasikan di Dusun lain, sosialisasi ini merupakan sosialisasi kedua bagi kami. Di pagi hari kami telah membuat briket baru dari hasil evaluasi ditambah bahan tambahan dari kotoran sapi. Hasilnya luar biasa, saat kami membuatnya bersama masyarakat hasil briketnya bisa terbakar dan tahan lama. Akhirnya usaha keras kami dengan masyarakat berhasil sudah, dan Berakhir sangat menyenangkan.

Berkumpul dengan masyarakat adalah anugrah.

Dan Berbagi itu ternyata sederhana, yang penting niat dan semangat di dalam hati

IMG_2229 IMG_2432 IMG_20140908_173238

GETAS, Ajak Siswa Taat Lalu Lintas

Surabaya sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia memiliki angka kecelakaan yang tinggi dibanding daerah lain. Kecelakaan lalu lintas di daerah ini menempati urutan pertama dengan tingkat kejadian kecelakaan lalu lintas tertinggi di Jawa Timur tahun 2013.

Belum adanya partisipasi aktif dari siswa SMP dalam mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas sehingga diperlukan pendekatan partisipatif untuk mendorong siswa SMP ikut berperan aktif menyuarakan kepedulian terhadap ketertiban lalu lintas baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Upaya tersebut salah satunya adalah dengan pembentukan Komunitas GETAS, komunitas gerakan tertib lalu lintas pada siswa SMP Yapita Surabaya sebagai suatu gerakan yang menyerukan kepedulian akan pentingnya ketertiban lalu lintas

Metode yang digunakan adalah melalui penyampaian yang inovatif dan menarik yang sesuai dengan usia anak SMP. Metode yang inovatif dimana media maupun sarana-sarana pembelajaran yang kita miliki belum pernah disampaikan sebelumnya. Metode yang menarik dimana kita mengupayakan penyampaian-penyampaian materi yang mudah dimengerti sesuai dengan usia anak SMP, agar materi yang kita sampaikan dapat terserap dengan baik. Beberapa program yang dihasilkan adalah pemainan Game Android Getas, Buku Tertib Lalu Lintas, Komunitas GETAS dan GETAS Smart Safety Award.

Dengan terwujudnya komunitas Gerakan Tertib Lalu Lintas (GETAS) yang merupakan wadah sharing, networking dan kampanye bagi siswa SMP Kota Surabaya dalam mematuhi peraturan lalu lintas serta dapat menularkan secara langsung ilmunya kepada masyarakat mengenai pentingnya budaya tertib lalu lintas secara berkelanjutan.

Ketercapain pelaksanaan diidentifikasikan melalui penilaian ‘paham’ dan ‘peduli’. Penilaian ‘paham’ dilakukan melalui pre test dan post test. Berdasarkan hasil tes terjadi peningkatan pengetahuan dari 67,2 % menjadi 90,6 %. Sedangkan penilaian peduli dapat dilihat dari antusiasme siswa SMP dalam mengikuti Komunitas GETAS, hal ini menunjukkan keberhasilan capaian luaran program ini dan diharapkan program GETAS ini akan terus berkembang demi kebermanfaatan.Selanjutnya kita akan selalu memonitoring perkembangan Komunitas GETAS ini.

Facebook Getas

Kegiatan ini merupakan salah satu Program PKM-Pengabdian Masyarakat di ajang PIMNAS 27 Semarang yang akan diselenggarakan pada tanggal 26-29 Agustus 2014. Menurut kami PIMNAS 27 Semarang merupakan ajang silaturahmi dan juga merupakan ajang kompetisi mahasiswa paling bergengsi ditingkat nasional, semoga semuanya memberikan manfaat.

Achsanul Fahruddin I

Kota Tentram Ponorogo

5392_menyinggahi_bumi_reyog_kota_ponorogo

Kota tentram, tenang loh jinawi,the REOG city, home land of REYOG.
Kota budaya di Indonesia sangat banyak, termasuk Ponorogo. Klono sewandono dan Songgolangit-pun tidak salah memilih tempat ini sebagai tempat kahuripannya. Menengok sekilas mengenai Kabupaten Ponorogo dan objek menariknya :

Gedung Graha Krida Praja Ponorogo, terletak di Pusat Kota Ponorogo, merupakan pusat pemerintahan daerah

Gedung-Graha-Krida-Praja-Ponorogo

Bendungan Air Telaga Ngebel

bendungan-air-telaga-ngebel-ponorogo1

Air Terjun Pletuk
ponorogo_pletuk_kotareog_com_008

Suasana Alon-alon Ponorogo di malam hari

69734794

Makanan Khas Sate Ayam Ponorogo
inforesep-sate-ayam-ponorogo

Kota Ponorogo di siang hari
uploads--1--2013--12--70827-jalan-masuk-ke-alun-dari-arah-selatan-malam-tahun-baru-jalur-menuju-ponorogo

Pertunjukan REOG di Malam hari jadi Kabupaten Ponorogo
festival-reyog-mini-ke-7-2009-di-ponorogo

Pendopo Kabupaten

pendopo-kabupaten4

Tarian REOG Ponorogo
5392_menyinggahi_bumi_reyog_kota_ponorogo

Reog-Ponorogo-2

International Essay Content for Young People (2012)
Youth Category – 1st Prize

Counting the Uncountable
(Original)

Anjali Sarker
(Age 21, Bangladesh)
University of Dhaka

When I was born, my complexion was quite dark and that made my parents worried. In Bangladesh, everyone prefers girls having fair skin color. Relatives and neighbors used to tell that my father would need to pay a large dowry in my marriage. I grew up hearing such comments. I felt sad, worried, and even ashamed. From a very young age I was desperate to make up for my not-so-beautiful look through my works. I studied hard; I tried singing, dancing, painting, and what not. I tried frantically to be the best, so that no one can look down on me because I lack beauty.

Eventually, all those hard works started to pay off. Successes rushed in my life, one after another. When I was 18, I got admitted into the most prestigious business school in my country, which made me even more desperate for achievements. However, things started to change gradually. Earlier my world was very small; school, home, family and a few friends. In university, I met hundreds of people, who were hankering after achievements, jobs, money and social status. I talked with many of my school alumni whose lives were full of pride, status and prestige. I observed their so-called “successful” lives. Surprisingly, successes could not make them happy. Deep inside, they were depressed. They cursed their bosses, felt dissatisfied with work and could not spend quality time with their families.

I was confused. What do we really expect from life? What should we do today to build our future tomorrow? I observed carefully and sensed a lack of positivity in the air. Dissatisfaction, intolerance, and cynicism were whimsically growing everywhere. I felt something was wrong. Statistics says our country is progressing, but what is about our people? Are we happier than before? Or, are we happy at all?

I talked with more people and tried to discover the exceptional things, events and people around me who are different from the crowd. I looked for people who were living happily, working hard to fulfill their dreams, helping others and contributing to the society. Gradually I realized what kind of future I want.

Nowadays, we are driven by material pleasure in life. Money, property, salary, luxury – these things matter most to us. We often forget the value of little things; small gifts that have made our lives truly blessed. Things like health, relationships and family, that we consider as given and never consciously think about, are the most important things in our life. We need to think beyond numbers and objects, care about numerous intangible gifts that are surrounding us. Our values, thoughts, dreams and beloved ones are taking our lives forward, not the food we eat or the money we spend.

I was a typical business student, waiting to work in giant multinational corporations, earn a fat paycheck at the end of month and live a luxurious life. But when I realized what really matter in life, I choose not to follow the crowd and design my own destiny. I decided to be a social entrepreneur and established a startup that provides rural poor with safe sanitation.

When I learned to acknowledge the small blessings in life, I understood that to achieve true success, we should cooperate, not compete. So I started motivating my classmates and juniors. I shared my thoughts with my teachers. At first everyone considered my wish to work for the poor a short term fantasy. They advised, forbade and even ridiculed me. But I followed my heart. As I set my priorities right and gave importance to the small things that matter, nothing could discourage me. The idea of following one’s heart is not new, but I have learnt through my experience why so many people fail to do that. We often forget to acknowledge value of the most precious things and crave for the not-so-valued ones. Small things matter, but we often ignore those.

Now I am 21 years old. My heart is full of passion, my eyes sparkle with confidence. No more confusion, no more inferiority complexes, no worries for not being a beauty queen. I am ready to do something for my country and the world through what I love- social business. Every social business aligns people, planet and profit simultaneously. I love to work in my social business, but I love even more to help other entrepreneurs to establish their own ones! That’s how happiness is created in a community and spreads itself. I inspire young girls to come out of their cocoons and see the world, as I am doing now. I am a free bird and now I am encouraging other birds to break their cages!

Future is nowhere, but in our own hands. Enough running after petty material things; let’s start counting the uncountable!

http://www.goipeace.or.jp/english/activities/programs/2012/winners/winner_y01.html

Water Sand Filter at Dayakan Village, Ponorogo Indonesia

Social Project of Ponorogo Community (KMPPS, 2013)

( Source : Social Project of Ponorogo Community KMPPS, 2013)

Water is a fundamental necessity for human life . When water conditions are not able to meet the needs of a large impact on health and social . Every day humans is estimated to require a minimum of 100 liters of water per – person , such as : the need for drinking , bathing , washing and others ( WHO Regional Office for South- East Asia , 2013) . Clean water is the water used to meet the daily needs of qualified healthcare quality and can be taken when it is cooked first ( MOH RI , 2002) .
Indonesia has many sources of water such as sea water , rivers , lakes , rain or from sources that we should be able to benefit properly . According Kusnaedi (2004 ) In rural areas generally have a human resources ( HR ) and inadequate funding , the water from the water source is generally taken as a direct clean water without taking the risk of health problems that occur due to the use of water resources is likely to contain pollutants or bacterial pathogens . On average in Indonesia , the current level of water turbidity exceeds the limit of 1,000 NTU . In fact , during the rainy season could reach 15,000 NTU . However , the existing technology is only able to treat water with turbidity levels of 5 NTU to 1000 NTU ( Reuters 2013) . The maximum allowable level for turbidity is 5 NTU , based on the Ministry of Health of the Republic of Indonesia No. 907 / MENKES / SK/VII/2002 , the physical requirements of water are as follows :

Tabel. Water Requirement

In the Dayakan Village Ponorogo in East Java there is a problem difficult to handle the needs of clean water or drinking water. When the dry season according to the village head Dayakan, in the Dayakan we can only rely on a backup water from the rainy season and the source of surface water, but the water source is far from the village settlement. Landmark Village Dayakan Ponorogo town located 22 km from Ponorogo to the natural conditions of steep mountains immediately adjacent to Wonogiri and Pacitan. Has a population of 1958 with an area of ​​12.6 km2 soul, this village needs clean water is high enough as a daily use (Government of Ponorogo, 2013).) Not only the problem that, according to information the head of the village and the local community in the village of Ponorogo Dayakan the water is murky. Difficult entry in this village make a technology very difficult and not easily applied. In fact Ponorogo District-PDAM could not even enter the village overall, due to the terrain and conditions that had not been to support. Map Dayakan Ponorogo Village, can be seen in Figure 1: :

Map of Dayakan Village, Indonesia

To solve this problem it is necessary that an effective alternative water treatment and raw water in accordance with local conditions. The selection of water treatment technology course must satisfy the technical requirements of the applicable water and produce the best, simplest and cheapest in the operation and maintenance, so we hope could be better implemented by involving the local community.

Therefore, we offer an alternative concept of water treatment are simple, cheap, long-term conditions by adjusting raw water sources and understanding the technology community as “Water Sand Filter”: slow sand filter system. Water sand filter a simple water treatment technology that produces clean water with good quality. The advantages of this system is it does not require chemicals (coagulant) which means environmentally friendly, filtering speed can reach 1-10 m3/m2/hari (BPPT, 2013).
Expectations of “Slow Sand Filter System” can overcome the problems of the local water supply in the long term at a low cost.

Pengembangan Potensi Kepemimpinan

Pengembangan Potensi Kepemimpinan

Seorang pemimpin – – – – – – -> Bagaimana menjadi Pemimpin yang efektif

mahatma_gandhi

(Mahatma Gandhi)1920x1440-nelson-mandela-in-jail-desktop-wallpaper-hd(Nelson Mandela)

Syarat :

  1. Idealisme yang dipegang haruslah benar dan kuat
  2. Semangat melayani yang tinggi terhadap orang lain
  3. Mempunyai Cara Pandang/Paradigma yang positif – – -> Untuk kepentingan Indonesia yang besar
  4. Mempunyai Visi yang Besar
  5. Cerdas, Adil, Amanah, Mampu menyampaikan dengan baik
  6. Mampu meningkatkan kinerja kelompok/organisasi melalui pembimbingan, controling, dan mengoptimalkan sumber daya yang ada

Seorang pemimpin haruslah mempunyai banyak peran, entah itu dalam lingkup keluarga, organisasi, Bisnis, maupun yang lainnya. Jadi tidaklah boleh hanya memiliki satu peran saja. Seorang pemimpin juga harus punya karakter kepemimpinan/ kepribadian yang benar. Setiap visi yang menjadi landasan tujuan organisasi haruslah selalu di recheck keefektifannya

 

Konsep Universal MultiCulture yang menarik :

  1. Disiplin
  2. Bertanggung Jawab
  3. Integritas

 

 

Visi : Tahap Imajinasi – – – – -> Kenyataan

Prioritas :
Pilihan 1 : Penting dan Genting

Pilihan 2 : Penting dan tidak genting

Pilihan 3 : Gak penting dan Genting

Pilihan 4 : Gak penting dan Gak Genting

Mengembangkan Passion

Tahap-tahap Pembentukan Tim :

  1. Pembentukan ( Forming )
  2. Penukaran gagasan ( Storming )
  3. Pembuatan Peraturan ( Norming )
  4. Kinerja ( Performing )

Congratulation SUPER STUDENTS IBS 2012 :)

Originally posted on Golden Inspiration:

Alhamdulillah, Senang sekali bisa menjadi bagian dari SUPER STUDENT keluarga besar IKA BUSINESS SUMMIT 2012, Jakarta

Congrat IBS 2012

Selamat kepada 250 SUPER STUDENTS ITS, PENS & PPNS
yang terpilih untuk mengikuti IKA ITS Business Summit 2012

Selamat datang dan Selamat bersenang-senang

No Nama Fakultas Jurusan
1 Ach Farid Wadjdi FTI TekniK Kimia
2 Achmad Ralibi Tigor N FTI TekniK Kimia
3 Achsanul Fahrudin Irvani FTSP Teknik Sipil
4 Adam FTIf Teknik Informatika
5 Adhitya Ilham Nusantara FTIf Sistem Informasi
6 Adi Isai FTI Teknik Mesin
7 Adi Rano FTSP Teknik Sipil
8 Adri Tria Andoko FTI Teknik Elektro
9 Agustina TY FMIPA Statistika
10 Ahmad Iklil Muna FTK Teknik Kelautan
11 Ahmad Mualifin FMIPA Kimia
12 Ahmad Mujahhid FTIf Sistem Informasi
13 Ahmad Syaiful Badari FMIPA Matematika
14 Ainil Karomah FMIPA Statistika
15 Aizar Lutfihani FTSP Teknik Lingkungan
16 Akhmad Faruq Al Hikami FTI Teknik Fisika
17 Aldhiansyah Rifqi Fauzi FTK Teknik…

View original 1,512 more words