Menyadari Tulisan dan Pengaruhnya

Di malam yang cerah ini. Saya kembali menulis mengenai fenomena unik antara tulisan dan pengaruhnya. Yang bisa dikaitkan dengan pergerakan politik juga. Pergerakan politik yang tidak terpisahkan dari peran tulisan.

Generasi sekarang merupakan generasi yang tidak lepas dari media sosial. Hampir setiap jam kita terhiasi oleh teknologi media sosial. Kadang sebagai media komunikasi maupun sharing ilmu pengetahuan. Kita berlebihan dalam penggunaannya. Bagi yang tidak sadar, cepatlah bertaubat. Karena bagaimanapun juga terlalu lama di media sosial tidak baik.

Tidak sedikit juga media sosial dijadikan media efektif para elit politik. Dalam berkampanye maupun berpendapat. Media sosial adalah representasi dari tulisan yang diunggah secara umum yang merevolusi buku menjadi digital. Tulisan yang mudah di akses. Dan berpengaruh besar dalam perkembangan generasi manusia. Yang mulanya membaca melalui buku atau mendengarkan radio atau melihat televisi. Berubah menjadi bermain Handphone maupun internet. Tidak perlu koran lagi dalam membaca berita. Tinggal klik di Handphone kalian masing-masing maka berita itu akan menghampiri anda.

Kita akui, kita sekarang adalah generasi yang bebas berpendapat. Iya, kamu bebas menulis pendapat apapun yang kamu suka. Entah itu untuk khalayak umum atau pribadi. Kamu dapat mengunggahnya di media sosial. Asalkan sesuai dengan batasan norma-norma yang berlaku ya. Misal menulis sesuatu yang dapat menghibur orang, berita, dan hal-hal yang menambah wawasan. Hingga mengajak responden untuk melakukan bisnispun bisa. Tapi bagaimanapun juga media sosial termasuk tulisan yang bisa jadi subjektif dan berkepentingan.

Banyak jurnalis tidak henti-hentinya bekerja menulis. Dan menyebarkan isu di media sosial. Hal ini dinilai efektif karena sebagian besar penduduk indonesia pemakai Handphone berlayanan internet untuk mengakses berita.

Apa yang kita kerjakan apa yang kita pikirkan. Dengan mudah semua orang bisa melihatnya melalui media sosial. Maka berhati-hatilah dan kontrol apa yang kita tulis. Seolah-olah semua orang kepo itu mudah. Tinggal investigasi dan observasi saja di media sosial. Maka kita dapat menemukan banyak hal yang kita cari.

Sama halnya sebuah politik. Sepanjang sejarang dunia politik. Awal dari pergerakan politik itu bermula dari tulisan. Tidak heran jika di era sekarang. Banyak orang membangun citra politiknya melalui dunia tulisan termasuk menulis di media sosial. Melalui media sosial. Contohnya adalah isu mengenai calon Kapolri bapak KOMJENPOL Budi Gunawan yang ditetapkan KPK menjadi tersangka pada tanggal 13 januari 2014. Ada bapak jokowi maupun bapak prabowo yang pada tahun 2014 banyak diisukan pencitraan sebagai calon presiden melalui media sosial.

Kita dengan mudah dapat mempengaruhi orang. Dengan kreativitasnya masing-masing kita dapat membuat banyak opini di masyarakat. Tapi tentu dengan batasan-batasan dan etikanya. Begitu juga dengan politik akan selalu diawali dengan tulisan yang banyak kita temui di media sosial. Selalu didampingi kekuatan tulisan.

Untuk itu bolehlah belajar menulis mulai sekarang dengan santun dan bijak. Menghormati orang lain dan tidak menggunakan tulisan sebagai senjata untuk menyudutkan lawan.

15 januari 2015

Published by

Achsanul F Irvan

My Name Achsan from Civil Engineering Department ITS Surabaya Welcome, Enjoyed :) Achsan_irvan@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s